Aku adalah anak bungsu di keluargaku. Umurku sekarang 9 tahun. Kata orang-orang, jadi anak bungsu itu enak, karena biasanya paling disayang. Tapi menurutku, jadi anak bungsu itu ada suka dan dukanya juga, lho. Tidak selalu cuma enak saja seperti yang dibayangkan orang lain.
Di rumah, aku punya kakak laki-laki yang aku panggil “Aa”. Umurnya 13 tahun dan sebentar lagi mau masuk SMP. Aa itu kadang baik, tapi kadang juga suka jahil. Ayah dan ibu juga baik sekali kepadaku dan Aa. Kami sering melakukan banyak hal bersama, jadi rumah terasa hangat dan menyenangkan.
Salah satu hal yang paling aku suka sebagai anak bungsu adalah aku sering diperhatikan. Kalau aku sakit sedikit saja, ibu langsung panik dan merawat aku dengan penuh kasih sayang. Ayah juga sering menanyakan kabarku, apakah aku sudah makan atau belum, apakah aku capek atau tidak. Rasanya aku jadi merasa sangat disayang.
Selain itu, aku juga sering diajak jalan-jalan oleh ayah. Kami biasanya naik motor metik milik ayah. Aku duduk di belakang sambil memeluk ayah erat-erat. Kami keliling gang-gang perumahan, melihat rumah-rumah, orang-orang yang sedang beraktivitas, dan kadang membeli jajanan. Itu adalah momen yang paling aku tunggu-tunggu. Angin yang berhembus terasa sejuk, dan aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua dengan ayah.
Kadang, kami berhenti di warung kecil. Ayah membelikan aku es atau camilan kesukaanku. Aku jadi merasa seperti anak paling beruntung di dunia. Aku suka sekali saat-saat seperti itu, karena rasanya sederhana tapi menyenangkan.
Tapi, menjadi anak bungsu juga punya duka. Salah satunya adalah aku sering dianggap masih kecil, padahal aku merasa sudah cukup besar. Misalnya, kalau ada keputusan penting, aku jarang diajak berdiskusi. Orang-orang di rumah biasanya berkata, “Kamu masih kecil, nanti saja kalau sudah besar.” Padahal aku juga ingin didengar pendapatnya.
Selain itu, aku juga sering dibandingkan dengan Aa. Karena Aa sudah lebih besar, dia sering dianggap lebih bisa melakukan banyak hal. Kadang aku jadi merasa sedih, karena aku ingin juga dipercaya seperti Aa. Tapi aku tahu, mungkin orang tua melakukan itu karena mereka ingin melindungiku.
Aa juga sering menyuruh-nyuruh aku. Misalnya, dia minta tolong ambilkan sesuatu atau memintaku melakukan hal kecil. Kadang aku kesal, karena merasa seperti “asisten” Aa. Tapi di sisi lain, Aa juga sering membantuku. Kalau aku kesulitan mengerjakan PR, Aa mau mengajarkan. Jadi sebenarnya Aa itu baik, hanya kadang suka usil saja.
Menjadi anak bungsu juga berarti aku sering mendapatkan barang bekas dari Aa. Misalnya buku, tas, atau mainan. Kadang aku ingin punya barang baru seperti Aa dulu, tapi aku juga belajar untuk bersyukur. Barang-barang itu masih bagus dan bisa dipakai, jadi aku tidak perlu mengeluh.
Walaupun begitu, ada juga keuntungan dari menjadi anak bungsu. Aku bisa belajar banyak dari Aa. Aku melihat bagaimana Aa belajar, bermain, dan bergaul dengan teman-temannya. Dari situ, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan. Jadi, aku bisa belajar tanpa harus mengalami semuanya sendiri.
Ayah dan ibu juga sering memberikan nasihat kepadaku. Mereka ingin aku tumbuh menjadi anak yang baik, rajin, dan sopan. Kadang aku merasa mereka terlalu sering mengingatkan, tapi aku tahu itu karena mereka sayang kepadaku.
Aku juga merasa rumahku penuh dengan cinta. Walaupun kadang aku dan Aa bertengkar, kami tetap saling sayang. Setelah bertengkar, biasanya kami akan baikan lagi. Ibu sering bilang, “Saudara itu harus saling menyayangi.” Aku selalu ingat kata-kata itu.
Kalau dipikir-pikir, jadi anak bungsu itu seperti punya dunia sendiri. Aku bisa menjadi anak kecil yang dimanja, tapi juga belajar menjadi anak yang lebih mandiri. Aku belajar sabar, belajar berbagi, dan belajar memahami orang lain.
Aku juga punya banyak kenangan indah bersama keluarga. Seperti saat naik motor dengan ayah, bercanda dengan Aa, atau membantu ibu di rumah. Semua itu membuat hidupku terasa lengkap.
Jadi, menurutku menjadi anak bungsu itu tidak hanya soal dimanja saja. Ada saat-saat menyenangkan, tapi juga ada tantangan yang harus dihadapi. Tapi justru dari situlah aku belajar banyak hal.
Aku bangga menjadi anak bungsu di keluargaku. Karena aku punya ayah dan ibu yang baik, serta Aa yang selalu ada untukku, walaupun kadang menyebalkan. Aku berharap kami bisa selalu bersama dan bahagia seperti sekarang.
Itulah cerita suka duka menjadi anak bungsu menurutku. Kalau kamu juga anak bungsu, pasti punya cerita sendiri yang seru, ya!

Comments
Post a Comment