Skip to main content

Aku suka jadi anak bungsu (#11)

Aku adalah anak bungsu di keluargaku. Umurku sekarang 9 tahun. Kata orang-orang, jadi anak bungsu itu enak, karena biasanya paling disayang. Tapi menurutku, jadi anak bungsu itu ada suka dan dukanya juga, lho. Tidak selalu cuma enak saja seperti yang dibayangkan orang lain.

suka duka jadi anak bungsu


Di rumah, aku punya kakak laki-laki yang aku panggil “Aa”. Umurnya 13 tahun dan sebentar lagi mau masuk SMP. Aa itu kadang baik, tapi kadang juga suka jahil. Ayah dan ibu juga baik sekali kepadaku dan Aa. Kami sering melakukan banyak hal bersama, jadi rumah terasa hangat dan menyenangkan.


Salah satu hal yang paling aku suka sebagai anak bungsu adalah aku sering diperhatikan. Kalau aku sakit sedikit saja, ibu langsung panik dan merawat aku dengan penuh kasih sayang. Ayah juga sering menanyakan kabarku, apakah aku sudah makan atau belum, apakah aku capek atau tidak. Rasanya aku jadi merasa sangat disayang.


Selain itu, aku juga sering diajak jalan-jalan oleh ayah. Kami biasanya naik motor metik milik ayah. Aku duduk di belakang sambil memeluk ayah erat-erat. Kami keliling gang-gang perumahan, melihat rumah-rumah, orang-orang yang sedang beraktivitas, dan kadang membeli jajanan. Itu adalah momen yang paling aku tunggu-tunggu. Angin yang berhembus terasa sejuk, dan aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua dengan ayah.


Kadang, kami berhenti di warung kecil. Ayah membelikan aku es atau camilan kesukaanku. Aku jadi merasa seperti anak paling beruntung di dunia. Aku suka sekali saat-saat seperti itu, karena rasanya sederhana tapi menyenangkan.


Tapi, menjadi anak bungsu juga punya duka. Salah satunya adalah aku sering dianggap masih kecil, padahal aku merasa sudah cukup besar. Misalnya, kalau ada keputusan penting, aku jarang diajak berdiskusi. Orang-orang di rumah biasanya berkata, “Kamu masih kecil, nanti saja kalau sudah besar.” Padahal aku juga ingin didengar pendapatnya.


Selain itu, aku juga sering dibandingkan dengan Aa. Karena Aa sudah lebih besar, dia sering dianggap lebih bisa melakukan banyak hal. Kadang aku jadi merasa sedih, karena aku ingin juga dipercaya seperti Aa. Tapi aku tahu, mungkin orang tua melakukan itu karena mereka ingin melindungiku.


Aa juga sering menyuruh-nyuruh aku. Misalnya, dia minta tolong ambilkan sesuatu atau memintaku melakukan hal kecil. Kadang aku kesal, karena merasa seperti “asisten” Aa. Tapi di sisi lain, Aa juga sering membantuku. Kalau aku kesulitan mengerjakan PR, Aa mau mengajarkan. Jadi sebenarnya Aa itu baik, hanya kadang suka usil saja.


Menjadi anak bungsu juga berarti aku sering mendapatkan barang bekas dari Aa. Misalnya buku, tas, atau mainan. Kadang aku ingin punya barang baru seperti Aa dulu, tapi aku juga belajar untuk bersyukur. Barang-barang itu masih bagus dan bisa dipakai, jadi aku tidak perlu mengeluh.


Walaupun begitu, ada juga keuntungan dari menjadi anak bungsu. Aku bisa belajar banyak dari Aa. Aku melihat bagaimana Aa belajar, bermain, dan bergaul dengan teman-temannya. Dari situ, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan. Jadi, aku bisa belajar tanpa harus mengalami semuanya sendiri.


Ayah dan ibu juga sering memberikan nasihat kepadaku. Mereka ingin aku tumbuh menjadi anak yang baik, rajin, dan sopan. Kadang aku merasa mereka terlalu sering mengingatkan, tapi aku tahu itu karena mereka sayang kepadaku.


Aku juga merasa rumahku penuh dengan cinta. Walaupun kadang aku dan Aa bertengkar, kami tetap saling sayang. Setelah bertengkar, biasanya kami akan baikan lagi. Ibu sering bilang, “Saudara itu harus saling menyayangi.” Aku selalu ingat kata-kata itu.


Kalau dipikir-pikir, jadi anak bungsu itu seperti punya dunia sendiri. Aku bisa menjadi anak kecil yang dimanja, tapi juga belajar menjadi anak yang lebih mandiri. Aku belajar sabar, belajar berbagi, dan belajar memahami orang lain.


Aku juga punya banyak kenangan indah bersama keluarga. Seperti saat naik motor dengan ayah, bercanda dengan Aa, atau membantu ibu di rumah. Semua itu membuat hidupku terasa lengkap.


Jadi, menurutku menjadi anak bungsu itu tidak hanya soal dimanja saja. Ada saat-saat menyenangkan, tapi juga ada tantangan yang harus dihadapi. Tapi justru dari situlah aku belajar banyak hal.


Aku bangga menjadi anak bungsu di keluargaku. Karena aku punya ayah dan ibu yang baik, serta Aa yang selalu ada untukku, walaupun kadang menyebalkan. Aku berharap kami bisa selalu bersama dan bahagia seperti sekarang.


Itulah cerita suka duka menjadi anak bungsu menurutku. Kalau kamu juga anak bungsu, pasti punya cerita sendiri yang seru, ya!



Comments

Tulisan aku yang ramai

Cerita hari ini : " Aku Juara Mewarnai"

 Hari Ini Aku Ikut Lomba Mewarnai dan Jadi Juara 2! 🎨😊 Aku juara lomba mewarnai Halo teman-teman! Hari ini aku mau cerita pengalaman seru banget yang baru saja aku alami. Aku ikut lomba mewarnai di kantor Ayah! Acaranya dalam rangka *Closing May Day*. Dari pagi sampai siang, aku merasa senang sekali. Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun dengan semangat. Aku tidak mau terlambat. Aku mandi, sarapan, lalu bersiap-siap membawa alat mewarnai. Ibu juga membantu menyiapkan semuanya. Aku berangkat bersama Aa dan Ibu naik Grab. Kami berangkat jam 7 pagi. Di jalan, aku merasa deg-degan tapi juga senang. Aku membayangkan nanti akan bertemu banyak teman dan ikut lomba. Perjalanan cukup lancar. Kami sampai di kantor Ayah sekitar jam 8 kurang 20 menit. Wah, masih pagi sekali! Tapi di sana sudah ramai. Banyak anak-anak yang juga mau ikut lomba mewarnai. Aku melihat tempat lombanya sudah disiapkan. Dan sudah banyak sekali yang sudah mulai mewarnai. Aku jadi makin semangat! Setelah duduk di tempat,...

Perkenalan Blog Aku (#1)

Perkenalan Blog Pribadi: Catatan Neng Cantik Halo teman-teman! 😊 Namaku Neng Cantik. Ini adalah blog pertamaku yang aku beri nama Catatan Neng Cantik . Di sini, aku mau bercerita tentang kegiatan sehari-hariku. Mulai dari bangun pagi, pergi sekolah, bermain, sampai hal-hal seru yang aku alami setiap hari. Aku suka sekali bercerita. Kadang aku cerita ke Ayah, kadang ke Ibu. Tapi sekarang, Ayah bilang kalau ceritaku bisa ditulis supaya bisa dibaca lagi nanti. Kata Ayah, tulisan itu seperti kenangan yang bisa disimpan lama. Jadi, aku mulai menulis di blog ini. Blog Catatan Neng Cantik ini seperti buku harian milikku. Bedanya, ini ada di internet. Jadi, aku bisa menulis banyak cerita tanpa takut bukunya penuh. Aku bisa cerita tentang teman-teman di sekolah, tentang pelajaran yang aku suka, atau tentang makanan enak yang aku makan hari itu. Setiap hari, aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi. Misalnya, hari ini aku belajar menggambar di sekolah. Gambarku memang belum bagus, tapi aku ...

Aku ikut pawai Hari Kartini 2026 dari sekolah SDN Ciantra 01

Hari ini adalah hari yang sangat spesial dan menyenangkan untukku dan teman-teman di sekolah. Tanggal 21 April 2026, kami semua merayakan Hari Kartini dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengikuti pawai di sekitar lingkungan sekolah. Dari pagi hari, suasana di SD Negeri 1 Ciantra sudah ramai dan penuh warna. Semua murid terlihat cantik dan keren dengan pakaian yang beragam. Pawai Hari Kartini Sejak aku sampai di sekolah, aku langsung merasa senang sekali. Teman-temanku datang dengan berbagai macam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang memakai kebaya, ada yang memakai baju adat Jawa, Sunda, bahkan ada juga yang memakai pakaian adat dari luar pulau. Aku sendiri memakai baju Kebaya. Bajuku berwarna merah maroon dan terlihat cantik, aku sangat suka memakainya hari ini. Tidak hanya memakai baju adat, kami juga diminta untuk membawa poster tentang Hari Kartini. Poster yang kami bawa berisi kata-kata semangat dan inspirasi. Setiap anak membuat poster yang berbeda-beda, j...